Isone mung nyawang
dening : yenny anika shofya
Ing sawijining dina kelas lia arep pelajaran olahraga nang lapangan basket. Pas tepak karo kelase Dana. Pas kuwi kelas e dana dolanan nok lapangan, nalika kelas liyo santai ing pojok. Pas waktu kuwi lia roh wong lanang sing lagi mblayu-mblayu karo ngguyu mbek konco koncone . Dana wis dadi kakak kelas e setaun sakdurung e tapi lia lagek masi wayah kuwi.
Singkat crita , Lia ngerti jeneng dana pas nok kantin, sawise olahraga Lia karo kanca-kancane mangan nok kantin lan kebetulan nalika kuwi Lia mbek kanca-kanca mangan, Dana karo kanca-kancane teka. Lan wektu kuwi Dana wes nganggo klambi abu-abu lan putih, enek jeneng ing dadane, teko kuwi Lia roh jenenge Dana
Rong wulan sawise Lia, sing mung iso ndelok Dana wektu lagi solat lan olahraga, teko masalah pas hp Lia dicekel karo Abi digawe chat Dana tanpa dierohi Lia. Lan pinter e Abi, chat kuwi langsung dihapus. Pas hpne lia wis dicekel karo lia, pas kuwi Dana mbales chat karo tanda pitakon . Langsung Lia bingung lan seneng.
Saminggu sawise kuwi lan ketepakan dina Rebo, dina kuwi pas wayahe pelajaran kesiji lan kaloro yaiku olahragane kelase Lia seng bareng karo kelas e Dana . Lia isin tenan, wedi lan gugup. Opo meneh, kanca-kancane nyeluk-nyeluk i jeneng e, ben Dana iso krungu. Saminggu sawise yo pas wayah olahraga konco-koncone kondo nek ojo salting (saah tingkah. Akhire lia dadi saitik ora salah tingkah
Lan ketepatan raenek pelajaran. Hp lia maneh -maneh dibajak karo koncone seng jeneng e ana karo manda. Lan cah loro kuwi bajak hpne Lia kanggo video call. Langsung lia emosi, ngomeng karo nangis. Sawise kuwi kontak e Lia dihapus. Utowo malah diblokir karo Dana.
Tugas 2 translate :
MINTA TOLONG
Oleh: Adinda AS.
WARSIH pagi itu sendirian dirumah. Pak Dirdjo dengan isterinya sejak kemarin bepergian ke Semarang mendatangi adiknya yang punya hajad mantu menikahkan anak gadisnya. Sedangkan mas Didiet putra sulung bu Dirdjo berangkat kuliah pagi-pagi tadi.
Warsih ikut keluarga pak Dirdjo sebagai pembantu sudah dua tahun ini. Ia terpaksa meninggalkan kota Wonosari tempat asalnya, kerja di Yogyakarta berat-beratnya orang tua ingin menyekolahkan anak perempuan satu-satunya bisa melanjutkan sekolah setamat SMP nanti. Tidak seperti dirinya hanya sekolah sampai kelas 1 SMP putus di jalan. Senantiasa terngiang pesan almarhum suaminya yang mendambakan anak perempuan mereka satu-satunya setidak-tidaknya lulus SMU.
Belum jam sebelas siang, pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab Warsih telah beres semua. Senyampang jadi ‘penguasa tunggal’ di rumah gedung besar ini, hari itu ia bisa bertindak apa saja sesuka hatinya.
Mencoba nyetel TV di ruang tengah, baru sebentar sudah bosan. Pindah ke teras depan berbaring tergolek di atas kursi males. Di atas meja kecil di sisinya tersedia segelas kopi panas dan sepiring makanan kecil. Sambil mendengarkan siaran radio Radio Retjo Buntung matanya terpejam-pejam dan tak henti-hentinya mulutnya memamah-biak. Ah, memang santai dan nikmat sekali. Rasanya seperti “nyonyah besar” saja. Memang enak jadi orang kaya!
“Permisi…… Selamat siang, bu!!”
Warsih kaget, bangkit dari tidurannya. Tahu-tahu ada seorang perempuan setengah umur mendekati dirinya.
“Kalau boleh saya ingin menyampaikan, bu. Saya ingin minta tolong……” kata perempuan itu setelah dipersilakan Warsih duduk di kursi teras dekat kursi males itu. Menilik cara berpakaian perempuan sebaya bu Dirdjo tadi menunjukan orang miskin atau serba kekurangan. Wajahnya pucat kumel, membayangkan penderitaan hidupnya yang penuh kesusahan.
“Maksud ibu mau apa?” tanya Warsih sambil menatap tas plastik yang sedang dijinjing tamunya itu.
“Saya mau menjual kain batik ini, bu……..” jelas perempuan setengah baya itu sambil mengeluarkan barang dari tas yang dibawanya.
“Wah, sekarang bapak dan ibu baru bepergian. Saya sendirian jaga rumah,” jawab Warsih. Ia mengira tamu perempuan itu seorang sales yang keluar masuk rumah menawarkan dagangannya.
“Saya memang butuh dengan ibu saja,” sahut tamunya sambil kepalanya menengok jalan di depan rumah. Warsih menduga tamu itu mengira Warsih pemilik rumah besar ini.
“Ini mau dijual berapa?” Tanya Warsih setelah kain batik itu dibuka-buka untuk sekedar berbasa-basi.
“Limapuluh ribu, bu. Kain ini masih baru!”
“Masak kain sekasar ini limapuluh ribu. Kemarin saya beli lebih halus hanya duapuluh lima ribu rupiah………”
” Kalau tidak terpaksa, sebenarnya kain ini tidak akan saya jual. Anak saya sedang sakit di rumah sakit. Saya janda ditinggal mati suami. Saya butuh uang limapuluh ribu rupiah untuk menebus resep obat anak saya,” jelas perempuan itu sambil berkali-kali tengak-tengok jalan di depan rumah. Warsih terharu mendengar cerita tamunya itu. Nasibnya seperti saya saja, pikirnya. Terpaksa mencari mata pencaharian sendiri untuk menghidupi keluarganya karena ditinggal mati suami.
“Kalau lima puluh ribu rasanya terlalu mahal,” Warsih mencoba menawar.
“Butuh saya limapuluh ribu untuk menebus obat itu. Kalau memang ibu bisa membantu saya…….. ” jawab tamunya sambil sekali lagi menengok jalan di depan rumah. Duduknya tidak tenang.
“Kenapa kok kelihatan bingung. Ada yang ditunggu, bu?”
“Tidak……… Itu, lho ……… Tim…….. Tim……”
“Tim apa??”
“Tidak, kok ……..” jawab tamunya pelan nampak ketakutan.
Mendengar perkataan “tim” Warsih lalu teringat setiap ada siaran acara MINTA TOLONG di TV RCTI ia bersama bu Dirdjo tentu tidak pernah melewatkan. Menghadapi ini Warsih terkejut. Di dadanya tumbuh harapan-harapan.
“Bagaimana, mau beli kain saya ini, bu? ” kata tamunya mendesak.
Warsih tidak segera menjawab. Ia segera keluar sampai pintu pagar memperhatikan kiri-kanan. Kemudian mendekati tamunya yang masih duduk di teras.
“Ya tidak kelihatan. Baru muncul satu atau dua jam nanti…….. Kalau anda jadi membeli kain ini sekarang harganya dua ratus ribu rupiah!”
“Loh, bagaimana toh ini? Belum-belum sudah naik harga empat kali lipat. ”
“Ya sudah kalau ibu memang tidak mau. Membayar dua juta saja ibu masih untung banyak,” tamunya bergumam sambil merapikan barang dagangannya.
Warsih ingat di setiap acara tv MINTA TOLONG setelah membeli barang yang ditawarkan, sebentar kemudian muncul seseorang yang mendekati pembeli barang tadi dan memberikan uang banyak sebagai balasan orang yang suka menolong sesamanya. “Rejeki,” demikian jelas pemberi uang tadi yang tidak lain ialah salah seorang “tim”.
“Ya, saya mau. Ditunggu sebentar, saya ambil uangnya dulu,” kata Warsih kemudian masuk ke dalam rumah. Uang upah kerjanya sebulan yang baru tiga hari yang lalu diberi bu Dirdjo diambilnya separohnya lalu diberikan tamunya itu.
“Terima kasih, bu. Ibu tunggu saja di depan sini. Nanti kalau tim datang bisa segera ketemu. Ya ini rejeki orang yang seneng memberi pertolongan seperti ibu ini, ” demikian tambah tamu wanita tadi sambil pamitan pergi.
Warsih hanya mengangguk-angguk tersenyum senang. Kain batik yang baru dibelinya dua ratus ribu rupiah itu tidak digubris lagi, barang tidak bernilai. Paling tinggi nilai senilai dua puluh ribu sudah bagus!
Warsih masih duduk di kursi teras. Di hatinya tumbuh angan-angan. Nanti kalau mendapat uang “rejeki” banyak seperti yang dilihat di tv itu seikat lembaran uang kertas limapuluh ribuan setidaknya lima juta rupiah! Wah, nanti bisa segera membelikan sebuah speda untuk Palupi anak gadisnya. Juga jam tangan yang sudah diimpi-impikan Palupi sejak ia kelas 6 SD. Utangnya kepada lik Sadiyem limaratus ribu juga bisa bisa dilunasi. Bisa beli cincin emas 5 gram untuk pengganti cincinnya yang telah dijual ketika suaminya masuk rumah sakit karena kecelakaan. Bisa membeli busana muslim yang berenda-renda indah…….. Wah, masih banyak lagi rancangan untuk membelanjakan uang lima juta rupiah itu. Dengan gambaran hal-hal yang menyenangkan tadi membuat wajah Warsih berseri. Bibirnya selalu tersenyum senang.
Belum sampai satu jam setelah itu, Didiet pulang dari kampus. Warsih segera masuk ke dalam rumah menyajikan makan siang untuk Didiet. Cepat-cepat kembali ke luar duduk dikursi teras. Terus beranjak mendekati pintu pagar, tengok kanan kiri memperhatikan jalan besar, tetapi tidak ada orang di jalan. Kembali duduk di kursi teras dengan tidak sabar. Habis makan Didiet keluar ke teras menyapa Warsih.
“Ada apa kelihatannya tergesa-gesa, mbak? Ada yang ditunggu?”
“Tidak kok mas Didiet……….”
“Nampaknya pikirannya mbak Warsih tidak tenang. Bicaralah barangkali membutuhkan bantuanku.”
Dengan mas Didiet Warsih merasa sudah dekat seperti sikap kakak beradik saja.. maka ia terus terang menceritakan semua peristiwa tadi.
“Kelihatannya kamu ditipu orang, mbak,” ucap Didiet dengan menatap wajah Warsih yang masih menunjukkan wajah orang bahagia.
“Jam berapa kejadiannya, mbak?” tanya Didiet sambil masih meremas-remas kain batik kasar tadi.
“Dua jam, mas.” jawab Warsih mulai bingung.
“Saya mau keluar dulu. Tadi pulangnya tamu ke utara apa selatan?”
Didiet mengeluarkan speda motornya dan dikendarai ke arah yang ditunjukkan Warsih. Setengah jam kemudian Didiet sudah pulang. Ia merasa kasihan melihat Warsih yang masih duduk terlongong-longong di kursi teras.
“Bu Harto RT sebelah juga tertipu, mbak. Kemarin tetangga temanku juga ditipu model seperti itu…….” cerita Didiet. Seketika tubuh Warsih lemah lunglai. Uang dua ratus ribu rupiah separoh upah kerjanya sebulan hilang percuma.
Sorenya setelah pak lan bu Dirdjo pulang, Didiet mengadukan hal ini kepada ayahnya.
“Jaman sekarang banyak orang menipu. Kita harus lebih hati-hati,” demikian ujar pak Dirdjo selesai makan malam. Warsih yang dinasihati hanya tertunduk lesu. Air matanya tak berhenti mengalir. “Orang punya niat menolong seharusnya tanpa pamrih. Kamu mau menolong orang hanya terdorong ingin mendapat rejeki lima juta rupiah. Tontonan dalam tv itu bisa sebagai gambaran orang yang memberi pertolongan tanpa pamrih. Namun ya bisa saja diatur seperti dalam sinetron, yang sifatnya hanya sebagai hiburan untuk pemirsa. Sekarang orang punya banyak akal untuk berbuat jahat. Mumpung banyak orang menyukai tontonan acara tv, ikut-ikutan pura-pura berperan sebagai peraga ”Minta Tolong”.
“Lain kali lebih berhati-hati. Uangmu yang ditipu orang tadi nanti biar diganti ibu…………”
“Kain seperti ini sepuluh ribu saja tidak laku, ” ujar bu Dirjo sambil menggelar kain batik kasar itu dengan tertawa terkekeh.
“Terimakasih, bapak-ibu ……” jawab Warsih dengan tangisnya terisak-isak.
Komentar
Posting Komentar