Langsung ke konten utama

Sania


Dening alfira dwi septiani

      Sania iku sahabate putri sing wis 6 taun kekancan. Putri lan sania iku naksir karo cah lanang sing podo yaiku abdi. Tapi sania lan putri nduweni janji lan isine " Sopo ae sing di cedak i disik, berarti sing ngolehno". Beruntunge putri sing di cedak i abdi disik.
      Sak wis e 2 ulan abdi nyedak i putri, akhir e bengi bengi abdi ngungkapake perasaan ing putri
Abdi : put
Putri : dalem
Abdi : sibuk ora? Aku arep ngomong
Putri : ora kok, arep e omong opo?
Abdi : aku arep e ngomong nk aku tresno awakmu put, gelem ora dadi pacarku?
Putri : tenanan awakmu nembak aku?
Abdi : iyo put aku tenanan
Putri : mmm, iyo aku gelem dadi pacarmu
      Sak wis e kuwi putri langsung chat sahabat e (sania) putri crito nk cae wis pacaran karo abdi
       6 ulan kepungkur, putri pacaran karo abdi wis setengah taun tapi sikap e abdi maleh dadi cuek karo putri. Sampek putri krungu teko kancane nk cae masi si abdi karo sania sahabat e putri mangan lan masi bioskop cah loro, putri ra nyongko sania iso nikung putri. Putri  langsung emosi lan srengen karo sania sangking srengen e putri langsung chat lan ngomeng i sania
      Sak wis e putri ngerti abdi cedak karo sania putri langsung mutusno abdi, loro sih asline opo maneh ditikung konco dewe. Sania sing biyen sahabat apik e putri saiki dadi wong sing gak kenal putri.
Koyo kuwi lah putri lan sania saiki perbedaane 180 derajat teko biyen. Mulai kuwi putri lan sania wis gak akrab koyo biyen akhir e putri petuk wong sing dadi konco curhat e jenenge dinda.
5 ulan kepungkur hubungane putri karo dinda malah cedak iso di arani se cedak putri karo sania biyen
Ora suwe sania berulah neh, sing awal e pacar e putri sing di rebut saiki sahabat anyar e putri sing di rebut, pancen kurang ajar benget si sania iku.
Sak ulan sak wis e si sania putus karo abdi sania njaluk sepuro karo putri, si putri gelem nyepuro tapi putri moh konconan karo sania maneh.


Tugas 2 translate :


MINTA TOLONG
Oleh: Adinda AS.
WARSIH pagi itu sendirian dirumah. Pak Dirdjo dengan isterinya sejak kemarin bepergian ke Semarang mendatangi adiknya yang punya hajad mantu menikahkan anak gadisnya. Sedangkan mas Didiet putra sulung bu Dirdjo berangkat kuliah pagi-pagi tadi.
Warsih ikut keluarga pak Dirdjo sebagai pembantu sudah dua tahun ini. Ia terpaksa meninggalkan kota Wonosari tempat asalnya, kerja di Yogyakarta berat-beratnya orang tua ingin menyekolahkan  anak perempuan satu-satunya bisa melanjutkan sekolah setamat SMP nanti. Tidak seperti dirinya hanya sekolah sampai kelas 1 SMP putus di jalan. Senantiasa terngiang pesan almarhum suaminya yang mendambakan anak perempuan mereka satu-satunya setidak-tidaknya lulus SMU.
Belum jam sebelas siang, pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab Warsih telah beres semua. Senyampang jadi ‘penguasa tunggal’ di rumah gedung besar ini, hari itu ia bisa bertindak  apa saja sesuka hatinya.
Mencoba nyetel TV di ruang tengah, baru sebentar  sudah bosan. Pindah ke teras depan berbaring tergolek di atas kursi males. Di atas meja kecil di sisinya tersedia segelas kopi panas dan sepiring makanan kecil. Sambil mendengarkan siaran radio Radio Retjo Buntung matanya terpejam-pejam dan  tak henti-hentinya mulutnya memamah-biak. Ah, memang santai dan nikmat sekali. Rasanya seperti “nyonyah besar” saja. Memang enak jadi orang kaya!
“Permisi…… Selamat siang, bu!!”
Warsih kaget, bangkit dari tidurannya. Tahu-tahu ada seorang perempuan setengah umur mendekati dirinya.
“Kalau boleh saya ingin menyampaikan, bu. Saya ingin minta tolong……” kata perempuan itu setelah dipersilakan Warsih duduk di kursi teras dekat kursi males itu. Menilik cara berpakaian  perempuan sebaya bu Dirdjo tadi menunjukan orang miskin atau serba kekurangan. Wajahnya pucat kumel, membayangkan penderitaan hidupnya yang penuh kesusahan.
“Maksud ibu mau apa?” tanya Warsih sambil menatap tas plastik yang sedang dijinjing tamunya itu.
“Saya mau menjual kain batik ini, bu……..” jelas perempuan setengah baya itu sambil mengeluarkan barang dari tas yang dibawanya.
“Wah, sekarang bapak dan ibu baru bepergian. Saya sendirian jaga rumah,” jawab Warsih. Ia mengira tamu perempuan itu seorang sales yang keluar masuk rumah menawarkan dagangannya.
“Saya memang butuh dengan ibu saja,” sahut tamunya sambil kepalanya menengok jalan di depan rumah. Warsih menduga tamu itu mengira Warsih pemilik rumah besar ini.
“Ini mau dijual berapa?” Tanya Warsih setelah kain batik itu dibuka-buka untuk sekedar berbasa-basi.
“Limapuluh ribu, bu. Kain ini masih baru!”
“Masak kain sekasar ini limapuluh ribu. Kemarin saya beli lebih halus hanya duapuluh lima ribu rupiah………”
” Kalau tidak terpaksa, sebenarnya  kain ini tidak akan saya jual. Anak saya sedang sakit di rumah sakit. Saya janda ditinggal mati suami. Saya butuh uang limapuluh ribu rupiah untuk menebus resep obat anak saya,” jelas perempuan itu sambil berkali-kali tengak-tengok jalan di depan rumah. Warsih terharu mendengar cerita tamunya itu. Nasibnya seperti saya saja, pikirnya. Terpaksa mencari mata pencaharian sendiri untuk menghidupi keluarganya karena ditinggal mati suami.
“Kalau lima puluh ribu rasanya terlalu mahal,” Warsih mencoba menawar.
“Butuh saya limapuluh ribu untuk menebus obat itu. Kalau memang ibu bisa membantu saya…….. ” jawab tamunya sambil sekali lagi menengok jalan di depan rumah. Duduknya tidak tenang.
“Kenapa kok kelihatan bingung. Ada yang ditunggu, bu?”
“Tidak……… Itu, lho ……… Tim…….. Tim……”
“Tim apa??”
“Tidak, kok ……..” jawab tamunya pelan nampak ketakutan.
Mendengar perkataan “tim” Warsih lalu teringat setiap ada siaran acara MINTA TOLONG di TV RCTI  ia bersama bu Dirdjo tentu tidak pernah melewatkan. Menghadapi ini Warsih terkejut. Di dadanya tumbuh harapan-harapan.
“Bagaimana, mau beli kain saya ini, bu? ” kata tamunya mendesak.
Warsih tidak segera menjawab. Ia segera keluar sampai pintu pagar memperhatikan kiri-kanan. Kemudian mendekati tamunya yang masih duduk di teras.
“Ya tidak kelihatan. Baru muncul satu atau dua jam nanti…….. Kalau anda jadi membeli kain ini sekarang harganya dua ratus ribu rupiah!”
“Loh, bagaimana toh ini? Belum-belum sudah naik harga empat kali lipat. ”
“Ya sudah kalau ibu memang tidak mau. Membayar dua juta saja ibu  masih untung banyak,” tamunya bergumam sambil  merapikan barang dagangannya.
Warsih ingat di setiap acara tv MINTA TOLONG setelah membeli barang yang ditawarkan, sebentar kemudian muncul seseorang yang mendekati pembeli barang tadi dan memberikan uang banyak sebagai balasan orang yang suka menolong sesamanya. “Rejeki,” demikian jelas pemberi uang tadi yang tidak lain ialah salah seorang “tim”.
“Ya, saya mau. Ditunggu sebentar,  saya ambil uangnya dulu,”  kata Warsih kemudian masuk ke dalam rumah. Uang upah kerjanya sebulan yang baru tiga hari yang lalu diberi bu Dirdjo diambilnya separohnya lalu diberikan tamunya itu.
“Terima kasih, bu. Ibu tunggu saja di depan sini. Nanti kalau tim datang bisa segera ketemu. Ya ini rejeki orang yang seneng memberi pertolongan seperti ibu ini, ”  demikian tambah tamu wanita tadi sambil pamitan pergi.
Warsih hanya mengangguk-angguk tersenyum senang. Kain batik yang baru dibelinya dua ratus ribu rupiah itu  tidak digubris lagi, barang tidak bernilai. Paling tinggi nilai senilai dua puluh ribu sudah bagus!
Warsih masih duduk di kursi teras. Di hatinya tumbuh angan-angan. Nanti kalau mendapat uang “rejeki” banyak seperti yang dilihat di tv itu seikat lembaran uang kertas limapuluh ribuan setidaknya lima juta rupiah! Wah, nanti bisa segera membelikan sebuah speda untuk Palupi anak gadisnya. Juga jam tangan yang sudah diimpi-impikan Palupi sejak ia kelas 6 SD. Utangnya kepada lik Sadiyem limaratus ribu juga bisa bisa dilunasi. Bisa beli cincin emas 5 gram untuk pengganti cincinnya yang telah dijual ketika suaminya masuk rumah sakit karena kecelakaan. Bisa membeli busana muslim yang berenda-renda indah…….. Wah, masih banyak lagi rancangan untuk membelanjakan uang lima juta rupiah itu. Dengan gambaran hal-hal yang menyenangkan tadi membuat wajah Warsih berseri. Bibirnya selalu tersenyum senang.
Belum sampai satu jam setelah itu, Didiet pulang dari kampus. Warsih segera masuk ke dalam rumah menyajikan makan siang untuk Didiet. Cepat-cepat kembali ke luar duduk dikursi teras. Terus beranjak mendekati pintu pagar, tengok kanan kiri memperhatikan jalan besar, tetapi tidak ada orang di jalan. Kembali duduk di kursi teras dengan tidak sabar. Habis makan Didiet keluar ke teras menyapa Warsih.
“Ada apa kelihatannya tergesa-gesa, mbak? Ada yang ditunggu?”
“Tidak kok mas Didiet……….”
“Nampaknya pikirannya mbak Warsih  tidak tenang. Bicaralah barangkali membutuhkan bantuanku.”
Dengan mas Didiet Warsih merasa sudah dekat seperti sikap kakak beradik saja.. maka ia terus terang menceritakan semua peristiwa tadi.
“Kelihatannya kamu ditipu orang, mbak,” ucap Didiet dengan menatap wajah Warsih yang masih menunjukkan wajah orang bahagia.
“Jam berapa kejadiannya, mbak?” tanya Didiet sambil masih meremas-remas kain batik kasar tadi.
“Dua jam, mas.” jawab Warsih mulai bingung.
“Saya mau keluar dulu. Tadi pulangnya tamu ke utara apa selatan?”
Didiet mengeluarkan speda motornya dan dikendarai ke arah yang ditunjukkan Warsih. Setengah jam kemudian Didiet sudah pulang. Ia merasa kasihan melihat Warsih yang masih duduk terlongong-longong di kursi teras.
“Bu Harto RT sebelah juga tertipu, mbak. Kemarin tetangga temanku juga ditipu model seperti itu…….” cerita Didiet. Seketika tubuh Warsih lemah lunglai. Uang dua ratus ribu rupiah separoh upah kerjanya sebulan hilang percuma.
Sorenya setelah pak lan bu Dirdjo pulang, Didiet mengadukan hal ini kepada ayahnya.
“Jaman sekarang banyak orang menipu. Kita harus lebih hati-hati,” demikian ujar pak Dirdjo selesai makan malam. Warsih yang dinasihati hanya tertunduk lesu. Air matanya tak berhenti mengalir. “Orang punya niat menolong seharusnya tanpa pamrih. Kamu mau menolong orang hanya terdorong ingin mendapat rejeki lima juta rupiah. Tontonan dalam tv itu bisa sebagai gambaran orang yang memberi pertolongan tanpa pamrih. Namun ya bisa saja diatur seperti dalam sinetron, yang sifatnya hanya sebagai hiburan untuk pemirsa. Sekarang  orang punya banyak akal untuk berbuat jahat. Mumpung banyak orang menyukai tontonan acara tv, ikut-ikutan  pura-pura berperan sebagai peraga  ”Minta Tolong”.
“Lain kali lebih berhati-hati. Uangmu yang ditipu orang tadi nanti biar diganti ibu…………”
“Kain seperti ini sepuluh ribu saja tidak laku, ” ujar  bu Dirjo sambil menggelar kain batik kasar itu dengan tertawa terkekeh.
“Terimakasih, bapak-ibu ……” jawab Warsih dengan tangisnya terisak-isak.
ooo0ooo
Penerjemah : alfira dwi septiani

Komentar